Rabu, 02 Maret 2016

Keterbatasan dan Ketidakterbatasan Etnomatematika

Etnomatematika sering dilihat dalam penerapan budaya lokal di lingkup masyarakat. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996: 149), disebutkan bahwa budaya adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan (adat, akhlak, kesenian, ilmu dll).
Kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, bahkan kebudayaan merupakan kesatuan utuh dan menyeluruh yang berlaku dalam suatu masyarakat dan pendidikan merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap inidividu dalam masyarakat. Pendidikan dan budaya juga memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai luhur bangsa yang berdampak pada pembentukan karakter yang didasarkan pada nilai budaya yang luhur.
Salah satu yang dapat menjembatani antara budaya dan pendidikan adalah etnomatematika. Etnomatematika adalah matematika yang diterapkan oleh kelompok budaya tertentu,kelompok buruh/petani, anak-anak dari masyarakat kelas tertentu, kelas-kelas profesional, dan lain sebagainya (Gerdes, 1994).Jika ditinjau dari sudutpandang riset maka etnomatematika didefinisikan sebagai antropologi budaya (cultural anropology of mathematics) dari matematika dan pendidikan matematika.
Berbagai budaya yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan etnomatematika untuk pendidikan di sekolah. Contohnya saja, seperti daerah Pemalang yang memiliki peninggalan budaya berupa “Tugu Peringatan Penembakan Kyai Makmur”, dimana bentuk fisik dari tugu itu sendiri dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran materi geometri yang terlihat jelas pada bangunan tugu yang berbentuk kerucut. Namun, etnomatematika tidak sebatas hanya dilihat dari bentuk fisik peninggalan budaya daerah tertentu, melainkan juga dapat dilihat dari aspek sosial budaya masyarakatnya, cerita sejarah, ataupun pusat-pusat peradaban yang ada di daerah tersebut.
Diambil dari pendapat Prof. Dr. Marsigit, bahwa etnomatematika dapat ditemukan di tempat-tempat peradaban daerah atau wilayah tertentu, tempat dimana pusat kekuasaan kerajaan pada zaman dahulu. Seperti di Indonesia, terdapat tempat-tempat peninggalan sejarah kerajaan hindu, budha, maupun islam. Agama Buddha masuk dari India ke Indonesia hampir bersamaan dengan masuknya agama Hindu. Agama Hindu berkembang setelah agama Budha. Namun persebaran agama Hindu lebih cepat daripada persebaran agama Budha. Hal ini terbukti dari lebih banyaknya kerajaan Hindu daripada kerajaan Buddha di Indonesia. Sementara pusat-pusat kerajaan Budha hanya terdapat di Sumatera dan beberapa daerah di Jawa. Kerajaan hindu yang tersebar di Indonesia yaitu kerajaan Kutai, Kediri, Majapahit, Singasari, Mataram Hindu, dan Tarumanegara. Sedangkan kerajaan Budha yaitu kerajaan Kalinga, Sriwijaya, dan Mataram Budha. Kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan kejayaannya berlangsung antara abad ke-13 sampai dengan abad ke-16. Timbulnya kerajaan-kerajaan tersebut didorong oleh maraknya lalu lintas perdagangan laut dengan pedagang-pedagang Islam dari Arab,India, Persia, Tiongkok, dll. Kerajaan tersebut dapat dibagi menjadi berdasarkan wilayah pusat pemerintahannya, yaitu di Sumatera, Jawa, Maluku, Kalimantan dan Sulawesi.
Selain dilihat dari pusat peradaban di Indonesia, etnomatematika juga dapat dilihat dari sisi letak Indonesia yang strategis yaitu terletak antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik). Dari letak yang strategis itu, membuat masyarakatnya harus mampu berfikir dalam perspektif global. Perspektif adalah cara pandang atau cara berpikir seseorang tentang suatu obyek. Perspektif global adalah suatu cara pandang dan cara berpikir terhadap suatu masalah, kejadian atau kegiatan dari sudut kepentingan global, yaitu dari sisi kepentingan dunia atau internasional. Oleh karena itu, sikap dan perbuatan kita juga diarahkan untuk kepentingan global. Dengan kata lain, perspektif global adalah suatu pandangan yang timbul akibat suatu kesadaran bahwa hidup ini adalah untuk kepentingan global yang lebih luas.
Dalam cara berpikir, seseorang harus berpikir global, dan dalam bertindak dapat secara lokal (think globally and act locally). Maka dari itu, pendidik atau guru memerlukan suatu pendekatan yang akan menolong siswa untuk mengarahkannya kepada kehidupan yang kompleks dan menjauhi pengertian yang sempit tentang ruang, ras, agama, suku, sejarah dan kebudayaaan. Istilah-istilah dan pemahaman yang sempit seperti kesukuan, kedaerahan, barat-timur, putih-hitam, dapat memunculkan benih-benih konflik sehingga memunculkan pertentangan dunia.
Cara berfikir dalam perspektif global ini dapat dikaitkan dengan etnomatematika. Mengapa? Seperti yang kita ketahui, pengertian global meliputi cakupan yang sangat luas dan mendunia, persilangan antar budaya yang sangat dari berbagai negara dapat memberikan pengaruh yang besar bagi suatu negara baik dalam dunia pendidikan, sosial, maupun politik. Dipandang dari dunia pendidikan, pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang dirancang untuk mempersediakan anak didik dengan kemampuan dasar intelektual dan tanggung jawab guna memasuki kehidupan yang bersifat kompetitif dan dengan derajat saling menggantungkan antar bangsa yang sangat tinggi. Pendidikan harus mengaitkan proses pendidikan yang berlangsung di sekolah dengan nilai-nilai yang selalu berubah di masyarakat global. Dengan demikian, sekolah harus memiliki orientasi nilai, di mana masyarakat tersebut harus selalu dikaji dalam kaitannya dengan masyarakat dunia. Nilai-nilai ini merupakan bagian dari etnomatematika yang dapat diterapkan untuk matematika sekolah.
Untuk mengkaji nilai yang ada, perlu pengetahuan yang baik agar dapat membedakan mana nilai budaya yang positif dan negatif, karena tidak semua nilai budaya dari luar dapat diambil begitu saja tanpa adanya proses penyaringan yang tepat. Karena nilai budaya yang akan diterapkan harus sesuai dengan budaya lokal (budaya nasional) yang selalu kita junjung. Maka dari itu, untuk menghadapi pengaruh globalisasi semangat kesatuan dari NKRI harus ditegakkan secara utuh agar tidak tenggelam dalam lautan globalisasi yang bebas. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Marsigit, untuk memahami pengaruh globalisasi ini kita harus mampu berfikir positif, harus mampu memahami secara benar dengan maknanya (pemahaman yang bermakna), sehingga Indonesia tidak hanya terpengaruh tetapi juga dapat memberikan pengaruh bagi negara di belahan benua Asia maupun Australia. Perspektif yang positif ini sangat perlu ditingkatkan, karena dengan perspektif positif kita dapat berfikir secara luas dan kedepan. Sedangkan perspektif negatif hanya akan membuat kita semakin sempit dan terbatas dalam berfikir.


Daftar Pustaka :
Anggun, Fina Sari. 2015. DIMENSI, MANFAAT, TUJUAN, MASALAH PRESPEKTIF GLOBAL. http://gadonano.blogspot.co.id/2015/09/dimensi-manfaat-tujuan-masalah.html (diakses pada 1 Maret 2016)
Sejarah Nusantara pada era kerajaan Islam .https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Nusantara_pada_era_kerajaan_Islam (diakses pada 1 Maret 2016)
Zizer. 2009. Arti Penting Wawasan Ber-Perspektif Global dalam Pengelolaan Pendidikan di Indonesia. https://zizer.wordpress.com/category/perspektif-global/ (diakses pada 1 Maret 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar